Seorang pemuda yang bekerja sebagai kurir sedang melakukan perjalanan ke suatu kota untuk mengirim barang. Dia sebenarnya baru pertama kali ini pergi ke kota itu, dan dia tak menyangka jalan yang ditempuh kesana cukup jauh. Juga jalan menuju ke kota itu ternyata mengharuskannya melewati sebuah bukit, yang menyebabkan perjalanannya menjadi melelahkan. Membosankan pula karena di bukit itu hanya terdapat hutan lebat penuh dengan pohon pinus. Berulang kali dia menyalakannya radio,tetap tidak ada stasiun radio yang bisa tersambung. Mungkin diluar frekuensi. Dia menguap, sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukan jam 9 malam.
"Hmm aku lelah sekali, tapi jika tidak kuantar segera mungkin akan keburu pagi,"
Dia sebenarnya sudah berniat untuk meneruskan perjalanan, tapi tiba-tiba ia melihat tanda papan penginapan dipinggir jalan, dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di penginapan itu. Tak lama dia berkendara, dia menemukan penginapan yang dia cari. Segera dia masuk mencari tempat untuk parkir. Saat sedang memarkir mobilnya, dia melihat ada sebuah mobil lain yang terparkir jauh dipinggir tempat parkir. Dia turun dari mobilnya sambil memperhatikkan mobil cantik itu. Telihat seperti mobil klasik tahun 60'an, dan seperti terawat dengan baik. Apalagi cat mobil yang berwarna merah marun itu, terlihat seperti baru. Sejenak dia memperhatikan, kemudian melanjutkan berjalan kearah penginapan. Penginapan ini kelihatan sudah tua sekali, dan tampak kumuh. Saat dia masuk, dia melihat resepsionis yang sudah tua. Kulitnya putih pucat, seperti orang kedinginan.
"Apa masih ada kamar untuk malam ini?" tanya pemuda itu.
"Hanya satu kamar yang terpakai malam ini. Sisanya tak terisi…" jawab resepsionis itu, datar.
"Oh baiklah. Mungkin aku hanya tinggal beberapa jam saja, nanti aku dini hari sudah pergi lagi. Berapa biayanya?"
"Terserah anda tuan, tapi harga kamar tetap kami hitung satu malam, 7.35 dollar…" ujar Resepsionis.
"Baiklah," kata pemuda itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang. Dia sebenarnya merasa sedikit heran, meskipun memang tempat ini sedikit terpencil dari pemukiman, kenapa harga kamarnya bisa semurah ini? Dia sering melancong ke berbagai kota, dan belum pernah mendapati penginapan semurah yang satu ini. Tapi biarlah, kalau dipikir malah untung. Sambil menunggu, dia memperhatikkan lobby penginapan yang remang-remang, terlihat kuno dan antik. Atau seakan memang terlihat dibiarkan seperti itu. Tidak ada barang yang terlihat modern. Bahkan televisi pun tidak ada. Satu-satunya sumber hiburan disitu hanya sebuah panggung kecil disudut ruangan, terdapat grand piano besar di atasnya. Mungkin itu untuk pertunjukan live music.
"Silahkan pak, kamar nomor 6." kata resepsionis sambil menyerahkan kunci, membuyarkan lamunan pemuda itu. Sambil mengambil kunci yang diberikan pemuda itu bertanya, "Apakah mobil merah cantik di depan itu milik anda?"
"Oh, bukan tuan. Itu milik tamu lain. Mereka baru menikah kemarin dan sedang berbulan madu. Sebaiknya anda jangan ganggu mereka!" jawab resespsionis ketus.
"Ah, tidak kok. Aku hanya tertarik pada mobil itu." ujar pemuda itu sambil berlalu, sedikit sewot. Sebelum pergi dia mengambil brosur penginapan itu dan memasukannya kedalam kantung jaket.
Pemuda itu segera menaiki tangga dan langsung menuju kamar nomor 6. Saat melewati kamar nomor 4, dirinya mendengar suara orang menangis didalam kamar. Kata resepsionis tadi hanya ada satu kamar yang sudah terisi, pastilah kamar nomor 4 ini yang dimaksud, pikir pemuda itu. Sempat terhenti sejenak, namun segera berlalu. Mungkin kamar nomor 4 itulah yang dipakai pasangan pemilik mobil merah tadi. Dia teringat pesan resepsionis untuk mengacuhkannya. Diapun segera beranjak, lagipula dia merasa sudah lelah sekali. Jadi lebih baik segera beristirahat.
"Ini dia, kamar nomor 6." ujarnya dalam hati, sambil membuka pintu. Hanya ada sebuah tempat tidur, lemari kecil, dan lagi-lagi tanpa televisi. Di sebelah pintu masuk ada sebuah kamar mandi. Dirinya langsung merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Dilihatnya luar jendela tampak pepohonan pinus. Angin diluar terdengar kencang sekali. Menimbulkan gesekan-gesekan yang membuat pepohonan pinus seakan menderit. Jam baru menunjukan 22:32, dia tidak mengira saat malam udara menjadi dingin sekali disini. Dia menarik selimut sampai ke leher, matanya sudah tertutup. Sebelum terlelap, samar-samar dia mendengar suara orang menangis lagi.
Jam 3:30 dia terbangun, "Ah sial! aku terlalu lama tidur. Harus buru-buru agar bisa sampai sebelum jam 6." kata pemuda itu dalam hati sambil bergegas. Dia langsung cepat turun menuju ke lobby. Saat melewati kamar nomor 4 dia masih sayup-sayp mendengar suara tangisan dari kamar itu. Tapi dia segera cepat berlalu tanpa menghiraukan tangisan di kamar 4 itu. Sesampainya di lobi, masih tampak sepi. "Ah payah, kemana bapak tadi? Masak aku harus menunggu sampai pagi?" pemuda itu merasa sebal. Dia mencoba menunggu beberapa saat, tapi resepsionis masih belum tampak. "Sudahlah aku tinggalkan kunci disini saja. Toh aku juga sudah bayar lunas." pemuda langsung pergi begitu meletakkan kunci kamar di meja resepsionis.
Pemuda itu berkendara sedikit ngebut. Jam 6:16 dia baru sampai ke kota yang dituju. Telat seperempat jam. Beruntung penerima tidak mempermasalahkannya. Setelah selesai menandatangani berkas-berkas dan menerima uang upah tambahan, dia memutuskan untuk pergi sarapan. Sesampainya di sebuah kedai, dia langsung memesan makanan dan satu cangkir kopi.
Sambil menikmati kopi dia bertanya kepada pelayan di belakang bar. "Dimana penginapan terdekat disini? Aku ingin meneruskan tidurku sejenak sebelum pulang," . Pelayan bar itu menjawab "Satu-satunya penginapan dikota ini ada di pusat kota, tuan. Anda tidak akan kesulitan menemukannya, karena tempat itu cukup ramai." Pemuda itu heran dan bertanya "Satu-satunya? Apa maksudmu? Aku tadi malam baru saja tidur di penginapan tua saat menuju kesini?"
Pelayan itu mengernyitkan dahi sambil memandang aneh kepada pemuda itu. "Tidak ada penginapan lain disekitar kota ini kecuali yang ada di pusat kota, tuan. Jikapun ada yang paling di kota sebelah." ujar pelayan itu. "Ah tidak, aku kemarin benar-benar berhenti di penginapan tua itu kok. Lagipula dipinggir jalan ada papan iklan oleh penginapan itu." kata pemuda itu.
Pelayan itu menghela nafas, kemudian menjelaskan, "Dulu, sekitar empatpuluh lima tahun yang lalu memang ada penginapan besar di pinggir jalan utama menuju kota ini. Tempat itu dulu katanya cukup ramai karena memang tempatnya indah berada di kaki bukit. Tapi suatu malam tiba-tiba terjadi longsor dari atas bukit yang menyebabkan penginapan itu terkubur. Untunglah saat itu dikabarkan hanya ada 2 orang tamu yang menginap, yaitu sepasang pengantin yang baru saja menikah. Evakuasi korban agak terlambat karena dulu mengirimkan suatu kabar tidak secepat saat ini. Bencana itu baru diketahui setelah 1 minggu berikutnya, saat ada seorang pendatang yang melihat bekas longsor dan segera memberitahu penduduk. Polisi dibantu penduduk sekita langsung segera mengevakuasi lokasi. Tapi mereka hanya bisa menemukan sebuah mobil berwarna merah, dan sayang tubuh korban sama sekali tidak ada yang dapat ditemukan. Kasihan mereka. Sekarang tempat bekas penginapan itu dijadikan pemakaman oleh penduduk kota ini. Papan iklan penginapan itu pernah dicoba dibongkar namun selalu ada saja kendala-kendala yang menyebabkan pembongkarang menjadi sulit. Walikota yang mendengar hal itu lalu sengaja membiarkannya agar menjadi pengingat atas korban bencana itu…"
Pemuda itu tercekat mendengar cerita dari pelayan itu. Tiba-tiba ia merasa merinding. Kemudian dia teringat jika ia menyimpam brosur penginapan itu di jaketnya. Sambil sedikit gemetar, dia mengambil brosur itu dan mulai membaca.
"ROSARIOS INN. PILIHAN YANG COCOK UNTUK REKREASI ANDA BERSAMA KELUARGA. DAPATKAN POTONGAN HARGA KAMAR DENGAN FASILITAS TERBAIK. HANYA $7.35 ! AYO CEPAT PERIODE INI HANYA BERLAKU SAMPAI DENGAN 13 OKTOBER 1967."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar