Minggu, 12 Oktober 2014

Tetaplah Dekat Bersamaku

"Brrp…brrp…brrp…"

Handphone ku bergetar, saat aku cek ternyata sebuah pesan masuk.

"Ah, ibu apalagi sih. Aku kan sudah bilang kalau aku akan baik-baik saja," gumamku pelan.

Memang mungkin aku terlihat tidak sopan, atau setidaknya kalian menganggapku seperti itu sebelum tau bagaimana ibuku. Ibuku sangat bawel sekali. Aku memang anak tunggal, dan mungkin memang wajar jika ibuku perhatian. Tapi menurutku terkadang perhatiannya berlebihan. Hal itulah yang kadang membuatku risih, dan sering kali aku mengabaikan smsnya. Aku tahu dia sayang padaku, tapi ayolah aku sudah bukan anak kecil lagi bu!

Hari ini hari sabtu. Aku sudah berencana pergi ke luar kota bersama pacarku Widya, akhir pekan ini. Sedang orang tuaku sedang mengunjungi nenek dari kemarin. Aku sudah memberitahu rencana itu ke kedua orang tuaku, dan seperti biasa ibu selalu bawel. Malah mungkin hampir tiap jam dia mengirimiku sms, menanyai keadaanku.

"Brrp…brrp…brrp…"

Kali ini aku merasa sebal. Daripada membiarkan berdering berkali-kali yang mebuatku risih, lebih baik aku membalas sms itu. Aku buka kotak masuk, 7 pesan belum dibaca. Aku baca sms yang terbaru.

"Nak apa kau masih di rumah?!! segera balas pesan ini!"

Ugh, lihat kan. Tidakkah menjemukkan menerima sms yang isinya hampir serupa berkali-kali. Baiklah aku balas, tapi SATU kali ini saja!

"Ya bu, aku msih di rmah sbuk nyiapin prlekapan bwt bsok, smbil mnunggu widya dtang. sms nnti saja aku msih sibuk."

Sudah. Dan kuanggap ibu sudah mengerti. Aku mematikan handphone dan aku charge dikamar, sementara aku melengkapi persiapan untuk besok.

Jam menunjukan pukul 16:07 tapi mana sih si widya kok belum datang ke rumah. Kami berjanji berangkat dari rumahku sekitar jam setengah empat. Kenapa bisa telat begini. Aku mengaktikan handphoneku. Sms masuk lumayan banyak. Tapi semuanya dari ibu (dan operator), tak ada sms satupun dari dia. Parah nih, memberitahu lewat smspun juga tidak. Kalau kemalaman bisa tidak mendapat kendaraan untuk berangkat. Aku pun meneruskan untuk menunggu di sofa ruang tamu.

Jam 17:13 aku hampir tertidur saat sebuah ketukan pelan di pintu depan. Aku segera beranjak dan membuka pintu depan. Ternyata memang dia.

"Ah kemana saja sih kamu? aku sudah menungu lama." kataku sedikit sewot. Dia diam saja menunduk. Mungkin dia merasa bersalah. Dengan suara lirih dia menjawab "Maafkan aku…"

" Sudahlah ayo berangkat!" aku menggandeng tanganya, dingin sekali.

Kami menuju terminal terdekat, setengah berlari. Kalau sudah lewat jam 18:00 sudah tidak ada bus lagi yang mengantar keluar kota. Tapi untunglah masih ada sebuah bus disana. Aku segera mengajaknya masuk dan mencari tempat duduk. Lumayan penuh, kami dapat di tengah. Dan satu hal bus ini terasa panas meskipun hari sudah beranjak malam. Tapi ya sudahlah. Nafasku masih tersenggal-senggal sehabis berlari tadi.

Aku memperhatikkan pacarku yang semenjak duduk langsung menundukkan kepalanya. Kenapa sih dia kok diam saja dari tadi. Dan hebatnya dia kok tidak terlihat kelelahan setelah tadi berlari.

"Kamu kenapa? lagi tidak enak badan? atau ada sesuatu?" tanyaku.

"Aku…sedang…tidak…ingin…bicara…" katanya tergugup-gugup.

"Ok, baiklah aku takkan memaksa." ujarku. Sedikit heran.

Tidak lama bus mulai berjalan. Dari celana terasa getaran, mungkin dari ibu. Ah biarlah, aku juga mulai merasa ngantuk. Perjalanan ini panjang, tak ada salahnya tidur sekarang. Mataku mulai terpejam.

Aku mulai terbangun saat merasa lagi getaran di celanaku. Aku melihat jam tanganku. Sudah berapa lama aku tidur tadi. Ternyata baru jam 21:27. Aku pikir tengah malam karena diluar gelap sekali. Namun sesekali aku masih memperhatikkan kalau disamping kanan-kiri kami merupakan pepohanan lebat. Rupanya saat ini sedang melewati jalan hutan di pegunungan. Aku mulai menarik handphone di celana.

"Apakah kamu mencintaiku?"

Aku belum sempat mengecek handphoneku saat tiba-tiba pacarku bertanya seperti itu. Aku menoleh. Kepalanya sudah tidak tertunduk lagi, tapi tatapannya kosong kedepan.

"Apa maksudmu? tentu saja aku mencintaimu."

"Apakah kau akan terus bersamaku…?"

"Tentu saja sayang, ada apa sebenarnya?"

"Tidak…"

Kepalanya kembali tertunduk. Aneh sekali dia hari ini. Aku mengecek kembali handphoneku.
Semua pesan dari ibu. Aku mulai membaca pesan yang paling lama.

"Jangan pergi, batalkan saja rencanamu itu." - 03:34 PM

"Aku baru saja mendapat telpon dari ibu widya. Dia mengalami kecelakaan sore ini saat perjalanan menuju rumah." 03:46 PM

"Ibu tahu kau pasti sangat sedih. Ibu dan ayah sudah memutuskan untuk pulang lebih cepat." 03:54 PM

"Sayang apa kau disana?" 04:12

"Tetaplah di rumah. Jangan pergi kemana-mana. " 04:30

"Kami sudah dalam perjalanan. Jika kau lapar beli saja makanan disekitar rumah sebagai pengganjal perut. Atau tahan saja sebentar, kami segera sampai dirumah, Nenek sudah membawakan banyak makanan." 05:47 PM

"Nak kau dimana?!! Dan banyak sekali darah berceceran di depan pintu!! Cepat pulang dan jelaskan semua ini!!" 07:12 PM

"Cepat pulang!! Jangan buat ibu khawatir!!!" 07:23 PM

"Nak, kau dimana!!!" 07:45 PM

Masih ada dua pesan tapi aku sudah tidak sanggup lagi membacanya. Aku bergidik ngeri, aku perhatikkan penumpang lain yang diam membisu. Aku tadi tidak memperhatikkan wajah-wajah mereka yang terlihat pucat sekali. Kemudian pelan-pelan aku melirik ke arah pacarku. Dia menoleh. Separuh wajahnya hancur. Dan dengan lirih penuh kesedihan dia berkata.

"TETAPLAH DEKAT BERSAMAKU…"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar